Laporan : Musfiran
Tulang Bawang,Lampung, eksposenews.com – Program Indonesia Pintar (PIP) merupakan pemberian bantuan tunai pendidikan kepada anak usia sekolah (6-21 tahun) yang berasal dari keluarga miskin, rentan miskin yang memiliki Kartu Keluarga Sejahtera, dan peserta Program Keluarga Harapan (PKH).
Dengan diluncurkannya PIP, pemerintah berharap agar tidak ada lagi anak-anak bangsa yang putus sekolah dengan alasan tidak ada biaya.

Namun, kenyataannya masih ada anak bangsa ini yang tidak sekolah dengan alasan tidak ada biaya. Bukan berarti anak tersebut tidak mendapat bantuan PIP, tetapi, PIP yang seharusnya diterima malah tidak disalurkan oleh pihak sekolah.
Hal itu dialami Herdi, salah satu murid sekolah dasar yag berada di Kecamatan Rawa Pitu, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung.
Herdi adalah siswa yang orang tuanya tergolong miskin dan peserta Program Keluarga Harapan (PKH), dan Herdi tinggal bersama kakeknya yang pekerjaannya sebagai petani.
Saat ditemui dikediamannya beberapa waktu lalu, kakek Herdi, Safe’i menyampaikan keluh kesahnya kepada media, soal cucunya yang tidak pernah mendapat bantuan PIP dari sekolah. Sambil menunjukan selembar kartu berwarna biru yang bertuliskan Kartu Indonesia Pintar atas nama cucunya (Herdi), Safe’i lalu bertanya, apakah kartu itu sudah tidak berlaku lagi untuk cucunya.


Dari awal bersekolah hingga akhirnya memutuskan berhenti dikelas 3 karena tidak ada biaya, Safe’i mengatakan belum pernah menerima manfaat dari KIP tersebut.
Safe’i menyebut, biaya yang membebani dirinya adalah pembelian buku sekolah setiap tahun yang harganya mencapai ratusan ribu.
Jangankan untuk membeli buku, untuk makan sehari-hari saja sudah kewalahan, begitu keluh Safe’i.
Bukan hanya Herdi yang tidak pernah menerima manfaat dari KIP. Hal serupa juga dialami Hera Abelia, siswa SMA di kecamatan Gedung Aji.
Meski nasib Hera tak seburuk Herdi, orang tua Hera ( Suhadi) dengan sekuat tenaga berusaha untuk menyekolahkan anaknya sampai ke bangku sekolah menengah atas (SMA) meskipun pekerjaannya adalah buruh tidak tetap.
Keluhan yang sama dirasakan Suhadi yaitu anaknya sejak duduk di SD hingga SMA, belum pernah sama sekali mendapatkan manfaat program PIP. Padahal, teman seusia Hera yang bersekolah disekolah lain mendapatkan manfaat dari PIP tersebut.
Namun ada hal yang sangat mengejutkan Suhadi, ketika kerabatnya memberitahukan bahwa putrinya Hera, merupakan salah satu siswa yang mendapat manfaat dari program PIP pada saat duduk di bangku SMP atas usulan dari direktorat SMP.
Dari informasi tersebut, Suhadi beberapa kali mendatangi SMP anaknya untuk minta penjelasan, namun selalu saja tidak berhasil bertemu guru dan kepala sekolah. Hingga Suhadi berusaha mendatangi rumah kepala sekolah, juga tidak bertemu.
Hadi mengaku, data dari direktorat SMP tersebut tertera atas nama Hera Abelia dan sudah dicairkan pada tanggal 05-04-2019 dan tanggal 24-04-2019.
Dari keterangan Suhadi itu, eksposenews beberapa kali mendatangi SMP N 1 Gedung Aji untuk meminta klarifikasi terkait bantuan PIP yang belum sampai kepada siswa. Namun tidak berhasil menemui kepala sekolah.
Belajar dari peristiwa tersebut, seharusnya pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Tulang Bawang harus lebih ketat dalam pengawasan bantuan pemerintah yang ditujukan kepada siswa.
Sehingga, tidak ada lagi anak bangsa ini yang usia sekolah, tidak bisa mengenyam pendidikan dengan alasan tidak ada biaya.
Kami berharap pihak Dinas Pendidikan dan sekolah-sekolah harus transparansi dan tidak menutupi informasi kepada orang tua siswa. Kalau ada orang tua siswa yang bertanya namun tidak mendapatkan jawaban ini bisa menimbulkan pertanyaan dan kami menjadi curiga jangan-jangan telah terjadi penyelewengan ujar, salah satu orang tua siswa tersebut.
Kami mohon bantuan wartawan agar masalah yang kami pertanyakan ini untuk diusut tuntas sehingga ada kejelasan kepada masyarakat. Harap para orang tua siswa kepada media ini.
