• Rab. Jan 14th, 2026

Film ’22 MENIT’ Siap Hadirkan Film Aksi Sekelas Hollywood di Bioskop Seluruh Indonesia

Byadmin

Jul 16, 2018

Laporan : Lemens Kodongan

Jakarta, eksposenews- Film drama aksi “22 Menit” yang terinspirasi dari teror bom di Jakarta siap menghibur penonton bioskop di Indonesia mulai 19 Juli 2018. Karya terbaru sutradara Eugene Parji dan Myma Paramita dari Buttonijo Films dan Bank Rakyat
Indonesia ini mengangkat tentang keberanian warga ibukota dan kesigapan aparat kepolisian dalam mengatasi serangan teroris yang terjadi di kawasan Thamrin, Jakarta, pada bulan Januari 2016 silam.

Film ini dibintangi oleh Ario Bayu yang berperan sebagai Ardi, anggota pasukan anti terorisme kepolisian yang mempertaruhkan nyawanya demi mengamankan ibukota dari ledakan bom tersebut.
Berkat kesigapan tim dan juga bantuan dari seorang polisi lalu lintas bernama Firman (Ade Firman Hakim), pelaku serangan bom bisa diamankan dalam waktu 22 menit.

Peristiwa berakhir dengan singkat, tapi insiden mematikan tersebut mengubah hidup orang banyak untuk selamanya Selain cerita tentang Ardi dan Firman, “22 Menit” juga menghadirkan sudut pandang mereka yang ikut terjebak di dalam situasi mencekam.

Beberapa di antaranya adalah office boy bernama Anas (Ence Bagus), dua karyawati bernama Dessy (Ardina Rasti) dan Mitha (Hana Malasan), serta Shinta (Taskya Namya) yang merupakan kekasih Firman.

Eugene dan Myrna yang bekerja sama dengan penulis naskah Husein M. Atmojo & Gunawan Raharja memang bermiat untuk mengangkat nilai-nilai kemanusiaan yang terkait dengan peristiwa tersebut.

Meski inspirasinya diambil dari kisah nyata, Eugene menegaskan bahwa “22 Menit tidak
dimaksudkan sebagai dokumentasi dari kejadian tersebut. Kami mendramatisir beberapa bagian dari peristiwa bom Thamrin untuk keperluan bercerita lewat medium film. Kami berniat menyuguhkan sajian teknologi canggih ke layar lcbar,” sahut Eugene.

Tim produksi “22 Menit” menggarap film berdurasi 75 menit ini dengan serius. Menurut Myrna yang telah melakukan penelitian di Kepolisian Republik Indonesia selama setahun sebelum produksi dimulai, pihak Buttonijo rajin berkonsultasi dengan aparat demi akurasi adegan. Sejumlah aktor yang
terlibat adegan baku tembak diwajibkan untuk mengikuti boot camp agar bisa tampil meyakinkan.

Bahkan, Buttonijo juga membangun maket kedai kopi dan pos polisi dalam ukuran nyata 1:1 untuk diledakkan secara sungguhan. “Kami menggunakan CGI untuk banyak adegan action di 22 Menit. Contohnya, adegan baku tembak
antara polisi dan teroris. Lalu, karena ledakan kedai kopi dan pos polisinya beneran, kami juga harus pakai green screen untuk menggambarkan situasi Thamrin saat itu,” Myrna menjelaskan.

Untuk urusan musik, Buttonijo mengandalkan komposer Andi Rianto yang hasil karyanya sudah tidak diragukan lagi. Andi mengatakan gembira bisa bergabung dengan tim kreatif 22 Menit. Menurut saya, jalan cerita “22 Menit” sangat menarik dan adegannya sangat bercerita. Apalagi adegan-adegan action-nya. Saya berharap sentuhan scoring yang saya buat mampu menghadirkan sisi emosional dari film ini.

Hiruk pikuk ibukota yang menjadi sorotan dalam film “22 Menit” juga ikut tergambar melalui alunan lagu “Jakarta” yang dibawakan secara syahdu oleh Semerjana. Menurut Satrio Pinandito dari Semenjana, lagu yang diambil dari album mereka yang berjudul “Kalimatera” ini diciptakan sebagai wujud rasa sayang terhadap kota yang telah membesarkan mereka.

Lagu ini kami tujukan untuk mereka yang seringkali merasa benci tapi rindu dan sayang kepada ibukota kita, Jakarta. Kami semua besar dan mengalami hidup di kota ini dan banyak peristiwa yang terjadi di dalamnya. Segala rasa manis, asam dan asin kami tuangkan ke dalam lirik dan alunan lagu
yang damai ini,” jelas Satrio.

Bank Rakyat Indoresia juga ikut menyatakan dukungannya terhadap film “22 Menit” sebagai karya anak bangsa yang patut diapresiasi. Bank Rakyat Indonesia turut senang dan bangga dapat menjadi bagian dari film 22 Menit’ yang
tidak hanya merghadirkan kualitas hiburan yang menjanjikan dan bertutur secara jujur, tetapi juga menunjukkan secara nyata kualitas teknologi dan pasukan yang dimiliki Indonesia dalam memepertahan kan kedaulatan bangsa ini.

Hal tersebut secara psikologis mampu memberikan keterangan tersendiri kepada masyarakat, sehingga dapat dikatakan bahwa film 22 Menit’ memiliki pesan
positif terhadap persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia di tengah maraknya paham radikalisme dan terorisme yang tumbuh cukup subur di tengah-tengah kita.

Bank Rakyat Indonesia
sebagai bank yang berkembang dan menjadi besar di Tanah Air ini merasa terpanggil untuk berperan aktif bersama pemerintah dalam memerangi bibit radikalisme dan terorisme tersebut salah satunya melalui
medium film yang digarap secara jujur dan tidak menggurui, sehingga mudah diterima oleh masyarakat, sekaligus menunjukkan dukungan kami terhadap perkembangan industri film nasional.” Ujar Sis Apik Wijayanto, selaku Direktur Hubungan Kelembagaan Bank Rakyat Indonesia.

Lexy Mere selaku produser menyatakan harapannya agar film “22 Menit” bisa menjadi pembelajaran untuk bangsa Indonesia agar senantiasa waspada dan bahu-membahu meredamkan jaringan terorisme
di negeri tercinta. “Kami ber harap film ini bisa menjadi pembelajaran soal anti tercrisme di Indonesia. Kita sebagai warga
sipil juga bisa punya andil untuk membannu tugas mereka dengan cara waspada dan senantiasa
berani melapor,” Lexy menjelaskan.

Usai gala premiere di Jakarta, film “22 Menit” juga akan melakukan roadshow ke sejumlah kota di Indonesia, mulai dari Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok, Karawang, Bandung, Cirebon, Solo,
Yogyakarta, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Malang, Medan, Lampung, Palembang hingga Makassar.

By admin